Thursday, August 31, 2017

YAKALIK GAK NYORE!

Kamis, 19 Januari 2017


Photo by: Sekar

“Ayo dolan!”
     Pagi ini, sebuah pesan chat BBM masuk begitu saya menghidupkan ponsel setelah dicharge selama 1000 tahun lamanya. Tertera nama Amrina Grande di layar ponsel. Tak lama kemudian disusul rentetan chat dari 2 makhluk astral lainnya, Sekar (bukan nama sebenarnya) dan Very (separuh jiwanya Amrina/Amer).

    Sementara itu, gadis bohai semampai ini masih nampak memprihatinkan dengan style “gembel bersahajanya”. Kira-kira kondisinya seperti ini:


  • Belum rampung beberes rumah,
  • Kaos oblong basah oleh peluh sampai nyeplak memperlihatkan lekukan beha dan lemak,
  • Ketek becek mengeluarkan aroma gas amonia dengan kadar tinggi yang bisa untuk membunuh populasi zombie se-Racoon City,
  • Rambut dikuncir keatas dalam kondisi lepek nan tengik, dan
  • Muka jauh dari kata “Galgadot abis”.
     
     Kondisi saya yang masih berantakan, membuat mereka beristighfar sedalam-dalamnya. Lha wong saya itu anaknya ndak bisa diajak dadakan. Kan eug bukan tahu bulat. Apalagi kalau sudah terlanjur mengerjakan gaweyan omah (baca: mbabu), ya harus dirampungkan terlebih dulu. Kali ini pun saya juga sudah menata mood untuk bersih-bersih muka, karena muka ini sudah mirip salak pondoh kalau dipegang. Jadi paling tidak tunggu 1-2 jam atau bahkan lebih, sampai saya benar-benar terlihat gorjes dan ready untuk diajak jalan sama Abang Hamish. Btw, paragraf ini sepertinya tidak penting ya?

     Kembali mereka beristighfar dari lubuk hati terdalam seraya berucap, “Ku ingin berkata kasar”.
KA-SAR.
1 jam…
2 jam…
3 abad 20 hari…

     Sekitar pukul 13.00, (akhirnya) kami pun berangkat santai. Gas tipis-tipis, kalau kata anak motor. Setipis Charm Body Fit. Gerimis sempat turun sebentar ketika kami masih di tengah perjalanan. Beruntung, tidak sampai hujan deras. Ya, cuaca belakangan ini sedang tidak bersahabat. Tidak seperti Alfamart dan Indomaret yang selalu bersahabat dalam suka maupun duka, forever and ever. Tapi mosok preman takut hujan. Mongomong, hendak kemana dikau?


***

     Gapura masuk Dusun Ngentak, Desa Candirejo, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul, sudah terlihat dari pinggir jalan raya Weru - Gunungkidul. Kami pun menyusuri jalan desa tersebut. Tidak sampai lima menit, sampailah kami di tempat tujuan. Ya...lokasinya memang hanya selemparan upil plankton dari jalan raya yang merupakan jalan alternatif menuju Kabupaten Gunungkidul, DIY. Kalau dari rumah saya (Jaten, Karanganyar), dibutuhkan waktu kurang lebih 1-1,5 jam untuk sampai di lokasi obyek wisata dadakan ini. Meski dadakan, tapi disini tidak ada kang tahu bulat.  


     Jadi, kami berempat menyempatkan untuk "menengok" salah satu tempat yang cukup hits di kalangan penganut hestek explore ini, explore inu, explore anu. Amer dan Very sebenarnya beberapa waktu yang lalu sudah pernah ke tempat ini. Mereka berdua suka gerak cepat kalau mencari tempat asyik untuk nyore (baca: yhang-yhangan). Di Instagram pun, saya kerap melihat postingan foto tempat ini. Karena dadakan dan berangkatnya juga sudah terlalu siang, maka kami mencari tempat dolan yang dekat-dekat saja. Sedekat aku dan suami...temanku. 



***

     Truk-truk pengangkut batu kapur berlalu-lalang di depan kami. Jangan kaget kalau sesekali hidup kalian akan terhempas manja oleh asap dan debu. Ah, wis biyasa jalan berkawan truk-truk, semacam di Ketep Pass. Telinga pun kian karib dengan suara pukulan batu yang saling bersahutan. Mata saya memperhatikan suasana sekeliling. Terlihat para penambang sedang beraktivitas, sambil sesekali bergurau dengan rekan-rekannya. Suasana desa pun sangat terasa dengan rindangnya pepohonan dan aroma pedesaan yang khas (baca: wangi sapi). Tak jauh dari kami, di depan sebuah rumah sederhana, terpasang sebuah papan bertuliskan "Lokasi dan Puncak Telaga" beserta gambar anak panah ke kiri. Pandangan saya mengikuti arah si anak panah dan terhenti ke sebuah tebing kapur yang menjulang. Oh...itu ta lokasi Telaga Biru?


Kalau Puncak Akademi Fantasi Indosiar dimana, Mz?

"Motornya diparkir disini saja ndak apa-apa, Mbak," kata seorang lelaki paruh baya yang sepertinya tengah ngaso di salah satu teras rumah warga. 

     Nampaknya si Bapak tahu kalau kami sedang celingukan mencari tempat parkir, karena tidak ada petunjuk dimana lokasi parkirnya. Kami pun memarkir motor sesuai arahan si Bapak baik hati. Dan ternyata lokasi dimana kami berada ini bukanlah jalan utama menuju ke lokasi Telaga Biru. Tapi ada akses lain dimana katanya jalan tersebut langsung mengarah ke atas tebing, jadi langsung bisa menikmati view dibawah. Begitu kata Very. Itu artinya, kita harus sedikit "mendaki". Okeoce! Jalan-jalan yang sedikit menantang begini memang favorit eug! Asal jalan kaki, bukan naik motor. Setelah memarkir motor, lalu kami berjalan kaki mengikuti arah yang tertera di papan petunjuk. 


     Kondisi selepas hujan membuat jalanan yang berupa tanah dan bebatuan menjadi becek dan licin. Padahal dari rumah sudah niat mau memakai sandal jepit saja. Untung saya urungkan niat "njepit", karena belum tahu medannya bagaimana. Kalau jadi, sudah mbrodhol kemana-mana Swallow ungu kesayangan saya. Tapi, saya jadinya pakai sepatu Crocs. YA PADHA BAE! LICIN-LICIN JUGA, BAHLUL!


     Langkah kaki kami makin mendekat ke tebing kapur yang mmm...sangat masa kini. Ya, tebing yang "dipercaya" mampu mempercantik feed Instagram people-people jaman now. Tapi kalau ingin mempercantik aura diri untuk menarik perhatian duda kampung sebelah, bukan disini tempatnya. Tebing kapur ini menjulang gagah, seolah membingkai area di sekitarnya. Tempat ini cukup tandus, bertolak belakang dengan suasana desa sekitar yang asri. So, siang hari sepertinya bukanlah waktu yang tepat kalau kalian ingin mengunjungi lokasi ini. Meski panas dan banyak debu, tidak dipungkiri area tebing ini menjadi salah satu spot foto menarik. Hmm...bagaimana untuk foto prewedding saja? Kan murah.






Photo by: Very

Photo by: Very

Photo by: Sekar

     Tapi ini belum seberapa. Untuk mendapatkan view ciamik yang menjadi daya tarik lokasi ini, kami masih harus "mendaki" ke atas tebing. Hanya sekitar 15-20 menit, tergantung seberapa kuat boyok kalian bisa bertahan. Sekali lagi, harus ekstra hati-hati. Keblowok sedikit, die


***

     Saya pun mengayunkan langkah menapaki jalanan berbatu. Harus ekstra hati-hati, karena saya memakai alas kaki yang seharusnya tidak dipakai di kondisi seperti ini. Rentan keblowok. Tanah basah dan bongkahan-bongkahan batu kapur harus kami lewati. Dari atas, saya juga bisa melihat para penambang sedang beraktivitas. Truk-truk pengangkat batu kapur terlihat mini dan lucu dari atas sini. Semacam mainan truk-trukan yang dijual di pasar malam dan ditarik dengan seutas tali. Tapi sayangnya tali ini tidak bisa dimanfaatkan untuk menarik leher pacarmu kalau dia mulai membeli action figure mahal dengan dalih hobi.











     Pandangan mata saya menyapu view sekitar. Semilir angin jelang sore hari sungguh syahdu. Apalagi suasana juga sedikit mendung. Hmm...ena bwat yhang-yhangan yheaaa? Tapi, "pendakian" kami belum selesai. Kami belum sampai ke spot yang menjadi daya tarik lokasi ini. Oks! Kembali saya membawa Crocs coklat yang sudah mblawus ini menapaki tanah basah dan bongkahan bebatuan kapur yang ukurannya cukup untuk bikin mantanmu sakaratul maut. 







     Sesampainya diatas, rasa mager dan ingin leyeh-leyeh manja langsung muncul. Deretan hijau pepohonan dan gundukan bukit di kejauhan sangat memanjakan mata. Semilir angin sore pun menambah ke-ciamik-an suasana. Kami tiba disini sudah menjelang sore, dimana sudah memasuki jam-jam "kemagisan". Bukan horor, maksudnya memasuki jam-jam enak untuk jalan-jalan. View asyik, suasana asyik, teman asyik, yakalik nggak nyore

     Suara teriakan kegirangan samar-samar terdengar. Oh, ternyata dibawah banyak bocah cilik yang sedang asyik bermain air. Ya, ini dia yang menjadi magnet tempat wisata yang berlokasi di perbatasan Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah dan Kabupaten Gunungkidul, DIY ini. Kubangan-kubangan air berwarna toska yang jika dilihat dari atas menyerupai telaga, menjadi hiburan tersendiri bagi akamsi (anak kampung sini). Maka dari itu lokasi ini dinamakan Telaga Biru, meskipun airnya cenderung berwarna toska. Kalau boleh saya bilang, semacam Telaga Warna di Dataran Tinggi Dieng. Maksa. Bodo. 

"Kayak di Raja Ampat ya?" celetuk Sekar dengan penuh halu.  





   Telaga Biru sebenarnya bukanlah obyek wisata. Tempat ini merupakan lokasi penambangan batu kapur. Bekas galian tambang tersebut membentuk beberapa cekungan. Ketika musim hujan, cekungan tersebut terisi penuh oleh air sehingga mirip telaga. Yang menarik adalah airnya tidak berwarna cokelat, sebagaimana air-air di kubangan, tapi berwarna toska. Itulah yang menambah kecantikan Telaga Biru jika dilihat dari atas, meskipun volume airnya sudah tidak sebanyak dulu waktu awal-awal lokasi ini mulai dikenal. 






***


     Saya merogoh ponsel di tas coklat kesayangan saya. Masuk ke menu kamera, lalu saya mengarahkan lensa ke obyek yang akan ditangkap ponsel Lenovo berkamera seadanya ini. 
Sekali jepret. 
Dua kali jepret.
Limapuluh kali jepret.
Seribu kali jepret.
Sejuta jepret.
Oks. Fail. Hampir semua. Dem
Saya pun menyerah dan memutuskan untuk nunut di kamera ponsel Sekar dan Very saja. Percayalah, ini bukan semacam kode. Tapi jika ada yang mau menghibahkan kamera bagus ke saya, akan saya terima dengan dada...eh, hati yang terbuka. 



Photo by: Sekar

Photo by: Very

     Kami sempat iseng membuka Instagram untuk mencari referensi foto yahud di tempat ini. Mereka kebanyakan berfoto dengan pose duduk anggun di pinggir tebing dengan kaki menjulur ke bawah. Sepertinya foto semacam itu tidak akan kami ikuti. Sebenernya biasa saja dan tidak ada yang perlu ditakutkan, tapi...

  • Kami sadar, keselamatan dunia akherat adalah segalanya.
  • Kami sadar, pinggiran tebing yang rawan rapuh ini tidak akan mampu menampung berat badan dan dosa kami.
  • Kami sadar, kami masih ingin menikah.
  • Kami sadar, pinggiran tebing bukan tempat berfoto aneh-aneh bagi tua bangka macam kami.
  • Kami sadar, hanya badan setipis Victoria Beckham yang berani salto di pinggiran tebing.

Pose yang normal-normal saja lah, macam dua sejoli ini.

***

     Setelah puas berfoto-foto ganjen, kami pun turun karena hari makin beranjak senja. Sebenarnya sunset-an disini sepertinya mengasyikkan. Tapi sayangnya cuaca agak mendung, jadi mungkin next time bisa dicoba. Telaga Biru ini bisa dijadikan alternatif wisata murah meriah bagi yang ingin santai-santai menikmati pemandangan dari ketinggian. Meskipun lokasi ini termasuk obyek wisata dadakan dan musiman (karena air telaga melimpah hanya saat musim hujan), tapi tetap harus menjaga kebersihan jika kalian berkunjung kesini. 






Thank you, guys!
Ketjoep!

Sunday, January 29, 2017

"Puncak Tenjo" ala Ketep Pass


Senin, 19 September 2016

     

     Sembari fokus mengendarai motor matic yang berslogan "One Heart", sesekali saya mendongakkan kepala ke langit. Masih pukul 11.00, tapi awan mendung sudah mulai nampak ketika saya dan teman saya masih berada di tengah perjalanan "mendaki" tanjakan kaki gunung. Bukan hanya jalan yang menanjak, kondisi jalan yang belum sepenuhnya diperbaiki pun juga menjadi tantangan tersendiri. Kerap pula wajah-wajah ayu dengan gincu yang masih merona ini, terhempas angin knalpot ketika beriringan atau berpapasan dengan truk-truk. Kan...kan...kan sayang make up-nya, kan sayang bedaknya, kan sayang bulu mata yang sudah ngetril, kan sayang alis yang sudah paripurna, kan sayang gincu yang sudah mirip orang habis makan orok, kan sayang pipi yang sudah merona mirip bekas tamparan mertua. Lalu si abang sopir memberikan pesan yang luar biasa melalui tulisan di bak truk.

"Don't rich people difficult"

Ok.

     Hawa dingin perlahan menyelinap di rongga jaket tipis saya. Butuh kehangatan? Pasti. Tapi apa yang bisa saya perbuat? Belakang saya sejenis je. Main-main ke gunung itu afdolnya sama lakik orang ya? Suasana juga sudah syahdu-syahdu lucu. Ah, mendadak saya kangen pacar. Tapi mau bagaimana lagi, Bang Hamish Daud lagi sibuk syuting dan main-main di laut untuk njaring ikan teri. Calon suamik idaman memang begitu, wajib kerja keras demi sebuah rumah di cluster mewah. Saya harus maklum.

"Jangan pulang kalau belum dapet banyak ikan. Ok?", pesan saya ke Abang dengan segenap lembaran brosur perumahan mewah.
*lalu digebukin sekompi Your Raisa*
*lalu ngadu ke Lambe Turah* 

***

     Setelah menempuh perjalanan yang bikin badan saya menciut se-Gigi Hadid, sampailah kami di tempat tujuan. View keindahan Gunung Merapi adalah "suguhan" yang ditawarkan tempat yang berlokasi di Ketep, Sawangan, Magelang ini. Ya... Ketep Pass. Ingatan saya melayang ke 5 atau 6 tahun yang lalu, dimana kali terakhir saya menyambangi tempat ini bersama teman-teman dekat yang sekarang cukup menjadi teman-teman saja (ngajak gulat memang ini perempuan... Mhehehehe...). Tidak ada yang berbeda. Masih sejuk, masih tercium aroma Indomie rebus, masih tercium wangi jagung bakar, dan masih banyak dek-adek yang pacaran. Ena, dek? Anget, dek? 

Lalu hujan pun turun...

     Setengah berlari, kami menuju ke salah satu warung makan untuk berteduh sekaligus mengisi perut. Saya sudah tidak sabar untuk menikmati semangkuk Indomie rebus pedas dan secangkir kopi sachetan. Karena bagaimanapun, Indomie bikinan orang lain lebih enak ketimbang bikinan sendiri. Tidak ketinggalan, saya juga memesan seporsi mendoan. Hmm...mendoan nikmatnya kalau dicocol sambal kecap ya? Dikarenakan tidak ada sambal (adanya cuma cabe), maka saya pun dadakan membuat sambal sendiri. Anaknya ngide banget sih. Beberapa potong cabe dilumatkan sekenanya, lalu dikucuri kecap manis secukupnya. Jadilah sambal kecap grabak-grubuk. Kemudian, tinggal cocol-cocol saja si mendoan ke sambal kecapnya. Ntabz ziwa!!!



Deretan warung makan di Ketep Pass. Tempat yang pas untuk memanjakan perut sekaligus memanjakan mata.



***

     Hujan masih belum berhenti dan kabut enggan pergi. Seandainya tidak ada kabut yang setebal foundation mbak-mbak penyanyi tv-tv daerah ini, kalian akan bisa melihat dengan jelas lekukan keindahan Gunung Merapi. Sembari menunggu hujan reda, kami pun mengobrol tentang segala hal, dari hal ringan hingga seputar permasalahan wanita dewasa, seperti misalnya mau pakai gincu yang mana untuk touch up hari ini, mau pakai filter foto yang mana biar muka jadi Song Hye Kyo abis, atau ngobrolin dedek-dedek ganteng yang wara-wiri di tab explore Instagram. Yang terakhir ini termasuk hal ringan atau berat ya? 




View dari warung makan, tapi gunungnya masih tertutup kabut.

     Hujan, Indomie rebus, kopi, dan mendoan sangat "berpartisipasi" dalam ke-mager-an saya. Ohya, disini juga banyak yang jual jagung bakar. Kurang nikmat gimana lagi ha? Tempat ini cocok untuk leyeh-leyeh manja. Terlebih kami datang di hari kerja, jadi suasana cukup lengang. Suasana seperti ini yang saya cari. Sayang, perginya sama perempuan...     


***





     Beranjak siang jelang sore, suasana mulai sedikit ramai. Hujan agak reda dan kabut perlahan beranjak dari gunungnya Mak Lampir Indosiar ini. Kami pun mulai mencari spot asik untuk melihat kegagahan Gunung Merapi yang tampak terlihat jelas di depan mata. Seolah jarak antara tempat kami berdiri dengan gunung tersebut, hanya selemparan kolor si Ucil. Padahal Ucil pun tak mengerti. Gunung Merapi tidak hanya sendiri, masih ada Gunung Merbabu yang mendampingi. Di kejauhan, terlihat pula deretan gunung-gunung lain. Menurut ke-sotoy-an saya, ada Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan Gunung Lawu mungkin (CMIIW). Sotoy ena sih. Apalagi sotoy rempah pakai lauk sundukan babat, tempe, dan kerupuk. (Y)







Si Bapak ini datang sendirian dan dia sangat asik foto-foto dhewek


***

     Berada di kaki gunung dan menikmati hawa syahdu selepas hujan adalah pilihan tepat bagi para "pemburu ketenangan" yang ingin melarikan diri sejenak dari kepenatan. Pun saya. Anggap saja sedang berada di Puncak Tenjo dengan latar belakang Gunung Fuji. Iya-in saja nggih, biar anak halu ini bahagia dunia akherat. Ndak apa-apa meskipun harus melewati jalanan yang setengah sudah bagus dan setengah masih ambyar. Bhay, Japan...eh, Ketep Pass!     






Rute ke Ketep Pass (dari Karanganyar/Solo): 

Menuju ke arah Kabupaten Boyolali - sampai di Patung Arjuna Wijaya (patung kuda) di simpang lima Boyolali - ambil arah kiri menuju jalur SSB (Solo - Selo - Borobudur) - masuk gapura jalur SSB lurus saja terus - sampai di Ketep Pass. 

     Untuk rute pulang, dikarenakan jalur SSB belum 100% rampung, kami tidak mau mengambil resiko. Masih ada bagian jalan yang sedang dalam proses perbaikan, dimana kondisi jalan tersebut berlumpur dan sehabis hujan pula. Maka dari itu, kami memilih rute pulang lewat Jogja yang kondisi jalannya lebih manusiawi, tapi memang jaraknya lebih jauh sekali. Dan si bodoh ini lupa kalau ada jalur via Kopeng yang lebih dekat ketimbang via Jogja. Bo-doh.

     Perjalanan kami diakhiri dengan saya membeli dodol yang masih terkemas rapi di sebuah toko oleh-oleh yang terbilang mahal. Sesampainya di rumah, saya pun membuka bungkus dodol tersebut dan ternyata dodolnya sudah jamuran alias basi. Bang-ke.

Terima kasih.
Ketjoep!

Friday, September 23, 2016

Mendaki "Surganya" Kulonprogo (Part 2)




     Selembar uang bergambar Tuanku Imam Bondjol saya serahkan kepada mbake penjaga loket masuk Kalibiru. Kalian hanya perlu modal Rp 5.000 saja untuk menikmati suguhan alam di tempat ini. Eh, nggak juga ding. Selain duit gocengan, modal untuk ke Kalibiru adalah fisik yang oke. Jadi, dari tempat parkir hingga loket masuk, jaraknya kurang lebih 100m (CMIIW). Deket dong? Deket! Tapi jalannya, yassalam nanjak tidak kira-kira. Ketika sedang duduk-duduk istirahat sebentar di teras salah satu homestay, saya melihat ada mbak-mbak memakai wedges yang duhbiyung tingginya. Betis sehat wal afiat, Mbak? 

     Setelah kami berjalan masuk ke lokasi, ternyata saya menemui juga mbak-mbak lain yang memakai alas kaki dengan hak tinggi. Bukan apa-apa, kalau kejengkang kan bahaya juga. Jadi untuk berkeliling Kalibiru, kalian harus menapaki anak tangga yang lumayan untuk menggugurkan kandungan. Maka dari itu, usahakan memakai alas kaki yang nyaman dan aman. Pokmen disini mainnya naik-turun, naik-turun, naik-turun. Jalannya. 

***
Dengan ini saya sudah sah jadi anak hits dunia akherat ya?


     Naik-turun tangga memang lumayan bikin hidup saya ngos-ngosan (sini makin menua atau karena kelemon?). Tapi kalau demi mendapatkan "sesuatu yang berkelas", libas saja. Iya...di Kalibiru ini kalian akan dimanjakan dengan pemandangan yang super cantik. Perpaduan antara hamparan hijau perbukitan Menoreh, pemandangan Waduk Sermo dari ketinggian, dan laut yang terlihat samar di kejauhan adalah suguhan yang sangat berkelas. Mungkin ini ya yang dinamakan surga? Surga-nya Kulonprogo. Tidak mengherankan kalau tempat ini langsung ngehits di seantero Galaksi Bima Sakti. Sudah murah, "jamuan" yang ditawarkan pun sangat mewah. Mongomong soal murah, kalau kalian hanya ingin santai-santai menikmati pemandangan, ya terbilang murah. Tapi kalau ingin mengabadikan momen dengan berfoto di spot-spot kece, kalian harus membayar lebih.



     
     Spot kece? Yap. Sering kan lihat di Instagram ada foto orang sedang duduk di rumah pohon dengan background hijau perbukitan, birunya air waduk, dan laut nun jauh disana? Itulah "ikon" dari Kalibiru. Tempat ini menyediakan beberapa spot foto dengan berbagai macam bentuk, seperti rumah pohon, spot tampir, spot love, dan lain-lain. Bagi yang ingin berfoto di spot-spot tersebut, kalian harus merogoh kocek Rp 15.000, per spot. Biaya ini adalah biaya untuk naik keatas spot foto saja, beserta pengaman yang wajib dikenakan pengunjung. Biar bakoh dari segala hempasan angin dan gombalan mantan.

     Lalu yang motret kita siapa, dek Tika? Kalau sudah bawa kamera sendiri dan ada teman yang jago motret, bisa memanfaatkan "jasa" teman kalian. Lumayan untuk menghemat saku. Tapi kalau mau hasil foto yang kece, mending mending memakai jasa foto mase Kalibiru sekalian. Kenapa? Karena mereka sudah hafal angle mana yang bagus dan bagaimana settingan kamera agar foto tidak backlight. Untuk hasil fotonya sendiri, dikenakan biaya lagi. Per foto dihargai Rp 5.000 dan pengunjung harus mengambil minimal 4 foto yang nantinya ditransfer dalam bentuk softcopy. Terus sewaktu diatas, dijepret berapa kali? Sak karepe lan sak bahagiane mase sih


"Softcopy itu gimana ya?"
Mbak pengunjung yang menggenggam ponsel pintar apel krowak. QOTD. 2016. -

    Saya pun tidak mau ketinggalan untuk berfoto di spot-spot tersebut. Setelah berkeliling terlebih dahulu, akhirnya pilihan saya jatuh di spot tampir. Lucu saja, bentuknya bundar. Ok, nice info. Selain itu, spot tampir ini antreannya tidak begitu banyak. Mungkin karena letaknya agak ndhelik. Iya, untuk berfoto di spot foto Kalibiru, sabar adalah koentji. Antreannya banyak, sis! Kami pikir kalau kesini di hari kerja bakalan sepi. Jebul ramai juga dan kami harus menunggu sekitar 30-45 menit. Bahkan kalau weekend atau hari libur nasional, antreannya bisa sampai 4 jam. Alig!

*** 

"Yooo... lanjut! Yooo... Yeezy gua udah siap yooooo!" kata mase petugas.

     Pengunjung sebelum kami pun dipersilakan naik keatas spot tampir. Sementara itu, si mbak petugas menyiapkan printilan alat pengaman (namanya apa sih?) untuk dipasangkan di badan saya dan Dista karena antrean selanjutnya adalah jatah kami. Sekitar 15 menit menunggu, tibalah giliran kami untuk berfoto-foto anggun. 

"Sik...sik, mas", kata saya dengan sedikit raut muka takut-takut bodoh ketika menaiki tangga. 

     Maklum, membawa 60kg (10kg berat badan dan 50kg beban hidup) keatas cukup bikin usus saya menggelinjang. Bahkan ketika sudah sampai diatas, mau berdiri saja agak ngewel. Sebenarnya tidak terlalu tinggi juga, tapi saya sedikit parno. Mungkin beda cerita kalau badan ini serata Awkarin. 

     Pertama, kami difoto bareng dengan berbagai gaya. Selanjutnya, secara bergantian kami difoto sendiri-sendiri. Jangan takut mati gaya, karena mase akan mengarahkan kalian. Mulai dari gaya ala Manohara, Dian Sastro, Raisa, Isyana, hingga gaya kebelet pipis ala Marilyn Monroe. Hasilnya dong! Ala Dijah Yellow! Owsem.



Ijk cantik kan? 

     Setelah dirasa cukup, kami pun turun. PR lagi! Posisi turun ternyata lebih riweuh ketimbang naiknya. Saya bingung, posisi badan harus menghadap ke depan atau ke belakang? Posisi tangan harus dimana? Posisi kaki berpijak di kepala siapa? Kepala atau kaki duluan yang turun? Maseee...iki piyeeee?

     Karena dulu saya anak bus tingkat dewa, saya selalu mengingat pesan abang kondektur tercinta, 

"Kalau mau turun, kaki kiri dulu ya, beb..."

     Baiklah, saya turunkan kaki kiri saya terlebih dahulu. Tapi bodohnya, dengan posisi badan menghadap ke depan. Kalau pegangan ini saya lepas, njlungup. Auk ah...saya pun turun sekenanya, meski harus "membokongi" si mas petugas yang berjaga di tangga. Monmaap ya, Mas. Anggap saja dapat berkah bempernya Kim Kadarshian.   

  



     Selain adanya spot-spot untuk berfoto, Kalibiru juga menawarkan fasilitas flying fox bagi pengunjung yang ingin menguji adrenaline. Sepertinya seru, karena kalian harus berjalan diatas satu tali dan meniti jembatan kayu terlebih dahulu, baru kemudian siap meluncur. Sayang, saya belum sempat menjajal permainan tersebut. 





***

     Penataan fasilitas di Kalibiru ini sudah cukup bagus. Tersedia banyak warung makan yang bisa kalian singgahi. Jadi untuk urusan perut, aman lah. Beberapa warung makan juga bisa kalian temui di dalam lokasi (di dekat spot-spot foto). Jadi bisa makan sembari menikmati pemandangan alam yang eksotis. Toilet dan musholla juga sudah ada. Selain itu, tersedia pula beberapa homestay di Kalibiru. Sayangnya, saya lupa mencari info mengenai harganya. 

     Bagi yang ingin berkunjung ke Kalibiru, akses jalan hanya bisa dilewati motor dan mobil. Bus besar tidak bisa masuk karena jalannya terlalu sempit, berkelak-kelok dengan tanjakan dan turunan tajam. Memakai kendaraan pribadi pun, terutama mobil, juga tetap ekstra hati-hati dengan medan jalan yang seperti itu. Intinya, kalau mau ke Kalibiru, harus memastikan kendaraan kalian waras. Yang menjadi poin plusnya adalah adanya petugas yang berjaga di beberapa titik dan saling berkoordinasi, termasuk dengan petugas parkir di Kalibiru. Tujuannya adalah untuk memantau, mengatur, dan memastikan kalau tidak ada mobil yang berpapasan dari arah berangkat maupun arah pulang. Menurut saya, jalan yang terlalu sempit dan berkelak-kelok cukup membahayakan jika dilalui dua mobil dari arah berlawanan. Keblowok sedikit, die!  Ditambah dengan belum adanya pagar pembatas di sisi jalan yang berhadapan langsung dengan jurang. Sumprit, kuwi horor. Tapi jalannya sendiri sudah bagus dan mulus kayak kulit embak-embak byuti ples

Berikut ini rute ke Kalibiru:
Dari arah Jogja (bisa ditempuh 1-1,5 jam)
Dari Tugu Jogja cari arah ke Kulonprogo / Purworejo - kalau sudah sampai Kulonprogo cari papan petunjuk arah ke Sermo (dari jalanan utama belok kanan) - melewati rel kereta api - Pasar Sentolo - ada SPBU besar di kanan jalan - masih lurus - pertigaan kedua belok kanan - lurus - sampai di pertigaan - lurus (arah ke Clereng) - melewati pasar - jembatan - setelah jembatan ambil arah kiri - lalu tinggal lurus saja mengikuti papan petunjuk bertuliskan Kalibiru. 

Dari arah Waduk Sermo
Mengikuti jalan yang mengelilingi waduk, nanti kalian akan menemukan papan petunjuk arah ke Kalibiru. Hati-hati jalannya juga menanjak dan sempit. 

Dari arah Solo (bisa ditempuh 3-3,5 jam):
Bisa lewat jalur Jogja kota atau bisa juga lewat ringroad utara - cari arah ke Kulonprogo / Purworejo - untuk seterusnya sama dengan rute dari Jogja. 

Terimakasih.
Ketjoep!

Nih, tak kasih bonus muka saya. Silakan gumoh...