Tuesday, December 12, 2017

Lawang Sewu, Sebuah Lorong Waktu (Part 2)

Kamis, 14 September 2017





Gedung B

     Keluar dari Gedung A, kami menuju gedung selanjutnya, yaitu Gedung B yang disebut sebagai Ruang Komersial. Begitu masuk, mata saya menangkap satu spot yang cukup memancing perhatian. Di sisi kanan, tepat di bawah tangga, ada 1 ruangan ke bawah yang menurut saya itu terhubung dengan ruang bawah tanah. Namun tidak ada akses untuk turun, sehingga kita hanya bisa menengok dari atas. Kondisinya pun sangat gelap. Saya mencoba menyalakan senter di ponsel untuk menyorot suasana di dalamnya. Sayangnya senter ini terkesan sia-sia, karena sorotnya tidak mampu memperlihatkan suasana ruangan tersebut. Yakalik pakai senter hape...

    Kita yang melongok dari atas juga harus hati-hati. Diusahakan untuk tidak terlalu mendekat karena tidak ada pembatas apapun di luar. Kondisinya benar-benar gelap, sehingga kita tidak tahu "wujud" ruangannya seperti apa. Kalau sampai njlungup, dikhawatirkan nanti kalian masuk ke dunia Alice in Wonderland. Tapi monmaap saya tidak punya stok foto ruangan ini karena ngeblur semua dan jempol saya reflek menghapusnya langsung. Horor? Oh. Bukan. Memang tangan saya saja yang jahanam tidak bisa motret.

     Menyusuri koridor gedung berlantai 2 ini, saya merasakan suasana klasiknya lebih terasa. Mulai dari model ruangan dengan atapnya yang tinggi, lantainya, hingga anak tangganya pun masih mempertahankan gaya lawasnya. Apalagi ketika melihat anak tangganya dari bawah, sedikit terkesan spooky. Di sisi kanan dan kiri terdapat ruangan-ruangan kosong dan luas. Di sisi kiri, ada ruangan yang bisa dikatakan mirip aula, tapi tanpa meja dan kursi. Tentu bukan kursi pimpinan DPR. Benar-benar melompong sehingga membuat suara kita bergema ketika berada di dalamnya. Deretan jendela-jendela besar yang terbuka ke atas turut menghiasi ruangan ini. Dengan ukuran ruangan yang lebar dan jarak yang tinggi antara lantai ke langit-langitnya, saya merasa seperti upil plankton


Wq.

     Lalu di sisi kanan, masih terdapat ruangan-ruangan kosong juga, tetapi dengan ukuran yang lebih kecil (34B atau 36B?). Ruangan ini seukuran kamar biasa, berderet selayaknya ruangan-ruangan kantor, dan disekat tembok bercat putih dengan pintu yang berada di tengahnya. Deretan pintu-pintu ini menciptakan kesan layaknya koridor memanjang yang kian jauh seolah kian mengecil. Spot ini menjadi salah satu spot wajib foto juga jika berkunjung ke Lawang Sewu. 




     Saya sempat menyusuri lantai 1 sendirian, karena orangtua saya sedang ngaso sejenak (tapi ngasonya bukan di kantin sekula'an sembari nyomot gorengan). Ketika menengok ruangan-ruangan di Gedung B ini, lumayan bikin bergidik juga. Terutama ketika masuk ke ruangan yang saya bilang mirip aula. Mungkin karena saking luas dan kosongnya, saya jadi membayangkan yang aneh-aneh. Terlebih saya datang di hari kerja dan masih pagi, jadi suasana masih cukup sepi. Mungkin si noni-noni Belanda lagi sarapan di warung bubur ayam mamang-mamang pengkolan. Tim bubur ayam diaduk atau bukan?

     Saya melanjutkan menyusuri koridor lantai 1 hingga ke ujung. Di belakang terdapat halaman kecil dengan beberapa tanaman dan rerumputan. Terpajang pula sebuah kereta mini dan tempat parkir sepeda yang nampaknya sudah tidak terurus. Tapi kereta mininya tidak bisa dimainkan. Ini bukan di mall ya, kids. Mushola juga berada di bagian belakang gedung ini. 



"Lalu dimana letak ruang bawah tanahnya?" gumam saya dengan dahi mengernyit. 

     Lawang Sewu identik dengan ruang bawah tanahnya yang cukup tersohor. Ruangan yang pernah difungsikan sebagai penjara bawah tanah tersebut selalu membuat saya penasaran untuk merasakan atmosfernya (sok berani). Karena ruangan yang saya temui di dekat pintu masuk tadi tidak ada akses ke bawahnya, berarti ada akses lain. Ternyata sebelum tangga yang berada di ujung koridor, terdapat ruangan dengan pintu tertutup dan tertempel kertas pemberitahuan penutupan sementara. Itulah akses menuju ruang bawah tanah yang sedang direnovasi sehingga belum bisa dibuka untuk umum. Seperti aurat, tidak dibuka untuk umum. Kecuali auratnya Dedek Molen.


Pintu menuju ruang bawah tanah = pintu penentu level keberanian

Kendall Jenner pun sangat sad tidak bisa menengok the underground of Lawang Sewu...


***

    Beranjak ke lantai 2, suasananya sama seperti lantai 1. Hanya terdiri dari ruangan-ruangan luas dan kosong dengan jendela-jendela besarnya. Saya kurang tahu apakah ruangan-ruangan ini biasanya digunakan untuk acara umum atau tidak. Tapi bukan untuk syuting acara Katakan Putus ya, gengs. Saya menyusuri lantai 2 bersama Bapak. Kami sempat santai sejenak di balkon bagian luar. Dari tempat ini, saya bisa melihat bangunan DP Mall yang berada di samping Lawang Sewu. Sebuah pemandangan yang kontras, dimana bangunan mall tersebut merupakan bangunan modern, sementara di sebelahnya terdapat Lawang Sewu yang mempertahankan gaya kolonial Belanda. Saya merasa berada di "pintu perbatasan" masa depan dan masa lalu. Pintu yang sedikit "berbahaya" bagi yang hidupnya tidak teguh pendirian. Tapi tidak lebih membahayakan dari pintu perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan.  








     Di lantai 2 Gedung B ini terdapat jembatan penghubung ke lantai 2 Gedung A, namun ujungnya ditutup supaya tidak ada pengunjung yang nekat masuk. Seperti yang saya bilang di postingan sebelumnya, lantai 2 Gedung A ditutup untuk umum en aidonowaaaiii. Selayaknya jembatan pada umumnya yang sering dipakai nongkrong, di jembatan ini juga dipakai beberapa pengunjung untuk nongkrong santai sembari berfoto dengan mirrorless kesayangan. Beberapa pengunjung wanita yang mayoritas adalah antek ter-Fujilah, terlihat sibuk mengoleskan kembali gincu yang memudar, agar ketika berfoto tetap terlihat cantik seperti bintang iklan. Bintang iklan Baljitot. 

     Sebelum turun kembali ke lantai 1, saya melihat ada anak tangga keatas lagi. Mungkin lantai paling atas Gedung B. Namun saya sedikit ragu karena jika dilihat dari bawah terkesan seperti loteng yang sunyi dan spookySudah jelas, itu bukan kamarnya Kevin McCallister. Kendall penasaran tapi plenjir, njuk kepiye? Bapak saya juga tidak mau diajak naik. Okelah, lupakan saja meski hati masih penuh dengan rasa penasaran yang belum tuntas. Seperti rasa penasaran soal seberapa gede bakpaonya Si Papa. Segede bakpao Mega Jaya atau bakpao disajikan dalam keadaan hangat?



Ini tangga menuju lantai paling atas Gedung B. Monmaap semua fotonya ngeblur. 

"Itu ruangan untuk nyimpen arsip-arsip, Mbak. Naik aja, ndak apa-apa," kata salah seorang pegawai di Lawang Sewu ketika saya bertanya soal ruangan yang mirip loteng tersebut.

"Naik aja, ndak apa-apa" 
"Naik aja, ndak apa-apa"
"Naik aja, ndak apa-apa"
Tapi saya... asudahlah. Kami memutuskan untuk turun saja. Menuruni tangga yang difungsikan sebagai jalur turun, harus hati-hati. Baidewai, tangga naik dan tangga turun di Gedung B ini dibedakan jalurnya. Di tangga turun yang terbuat dari marmer ini, beberapa bagian terlihat cuil. Anak tangganya sendiri lumayan kecil dan sempit, jadi hati-hati saja. Bagian yang cuil itu memang dipertahankan seperti apa adanya atau sudah waktunya renovasi? 





Bersambung...


Saturday, October 28, 2017

Lawang Sewu, Sebuah Lorong Waktu (Part 1)

Kamis, 14 September 2017

     Kaca jendela sedikit terbuka, menghantarkan udara pagi menyelinap masuk ke dalam mobil yang kami tumpangi. Perlahan hawa segar menerpa wajah saya. Mungkin semacam diterpa ababnya Jason Statham. Udara pagi nan segar ini membuat kantuk menyerang. Namun saya enggan memejamkan mata, karena pemandangan di sepanjang jalan tol Semarang sangat haram untuk dilewatkan. Tapi tidak termasuk pemandangan sopir truk "Pulang Malu, Nggak Pulang Rindu" yang sedang pipis sembarangan. Seharusnya tulisan di truk bisa diganti menjadi, "Pipis Malu, Nggak Pipis Batu Empedu". Yha.

     Masih pukul 07.00 WIKB (Waktu Indonesia bagian Kebelet Boker), tapi lalu lintas Kota Semarang sudah padat merayap. Benar-benar merayap. Udara segar pun seketika lenyap. Sementara keringat dingin mulai bercucuran. Di sepanjang jalan yang kami lewati, saya tidak menemui SPBU atau masjid. Jadi yang saya lakukan hanya berdoa dan sebisa mungkin tidak terlalu banyak bergerak hingga tiba di tujuan, yaitu kos adik saya. Perjalanan pagi memang ada ples maines-nya tersendiri. Atau haruskah saya sangu batunya Ponari?

     Ini adalah perjalanan kedua saya ke Semarang. Yang pertama nunut "nyelehne bokong" saja, karena hanya angkut-angkut barang ke kos adik saya yang mau PKL (Praktik Kerja Leyeh-Leyeh) di Stasiun Poncol selama 2 bulan. Yang kedua, dalam rangka angkut-angkut barang juga karena sudah rampung PKL. Tapi yang kedua ini, saya punya sedikit waktu longgar untuk jalan-jalan sebentar di Semarang bersama Bapak dan Ibu saya. Minimal mengunjungi tempat yang menjadi ikon plat H ini. 

***


"Ku ingin ke Lawang Sewu"

     Ya... Memang sudah lama saya ingin menapakkan kaki di Semarang, terutama di Lawang Sewu. Berbagai potret ke-eksotis-an bangunan tua karya arsitek Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendag dari Amsterdam ini selalu memancing perhatian saya, termasuk segala kisah misteri yang berada di belakangnya (Berani? Nope!). Keinginan itu selalu saya gumamkan sejak jaman jahiliyah. Namun baru bisa terealisasi di jaman now. Untung saya teguh iman dan tidak mengubah keinginan menjadi, "Ku ingin ke Meikarta"





     Setelah menebus tiket masuk seharga Rp 10.000 saja per lembarnya (ini lembar tiket masuk Lawang Sewu bukan lembar saham, bukan pula lembar tiket foto bareng Rando), kami memasuki area halaman depan bangunan yang berlokasi di dekat Tugu Muda Semarang ini. Dari loket, saya bisa melihat sebuah lokomotif tua terpajang di halaman depan. Spot yang pasti akan digemari bocah-bocah cilik, dimana mereka bisa berandai-andai menjadi seorang masinis. Bukan berandai-andai layaknya Rahul yang berlari manja mengejar kereta yang membawa Anjali dalam film Kuch Kuch Hota Hai

     Lalu saya pun berjalan menuju pos pemeriksaan tiket, sembari sesekali mengambil foto gedung dari luar karena cahaya pukul 08.00 masih bagus (kek ngerti aja). Sebelum pos pemeriksaan tiket, terdapat sebuah bangunan kecil yang awalnya saya kira itu adalah pos satpam atau bangunan tidak penting. Setelah mencari info, ternyata bangunan tersebut adalah sumur tua. Kan bahlul, sumur tua dikira pos satpam. Mau menengok ke dalam? Santai, tidak akan ada tubuh nenek "Pengabdi Setan" yang mengapung. 




Wah...ternyata penjaga sumur tua ini si Bruno Mars

***

Gedung A




     Seusai melewati pos pemeriksaan tiket, kami pun masuk ke gedung paling depan yang disebut Gedung A. Lawang Sewu terdiri dari Gedung A, B, C, D, dan E. Sebelum memulai tour, saya sarankan untuk menengok terlebih dulu peta yang terpajang di dekat pos pemeriksaan tiket. Disitu dijelaskan alur pengunjung yang hendak berkeliling Lawang Sewu supaya tidak kebingungan dan lebih jelas saja tujuan hidupnya. 


Mirror wefie di pintu kaca Gedung A

     Memasuki ruangan di Gedung A ini layaknya masuk ke sebuah galeri, dimana banyak terpajang berbagai koleksi foto dan lukisan yang menggambarkan sejarah Lawang Sewu. Bahkan hingga proses renovasi dan perawatannya juga didokumentasikan. Tidak hanya tentang Lawang Sewu, sejarah tentang per-kereta api-an Indonesia turut dipamerkan disini. Salah satunya adalah potret "doeloe dan sekarang" stasiun-stasiun kereta api di Indonesia. Saya suka melihat foto-foto semacam itu. Seperti dibawa lorong waktu, kembali ke masa lampau. Lalu, kenapa isinya tentang kereta api semua?




  


 
     Lawang Sewu, yang dibangun pada tanggal 27 Februari 1904 dan selesai pada bulan Juli 1907, dulunya difungsikan sebagai Het Hoofdkantoor van de Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatscappij atau yang lebih sering disebut kantor NIS. NIS yaitu kantor pusat perusahaan kereta api swasta yang pertama kali membangun jalur kereta api, menghubungkan Semarang dengan "Vorstenlanden" (Surakarta dan Yogyakarta) dengan jalur pertama Semarang-Temanggung 1867. Setelah digunakan sebagai kantor NIS, gedung Lawang Sewu mengalami beberapa kali alih fungsi sebagai berikut:
  • Sebagai kantor Riyuku Sokyuku (Jawatan Transportasi Jepang) di tahun 1942-1945.
  • Sebagai kantor DKRI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia) di tahun 1945.
  • Sebagai markas tentara Belanda pada saat agresi militer di tahun 1946.
  • Digunakan oleh Kodam IV Diponegoro pada tahun 1949.
  • Lalu di tahun 1994, diserahkan kembali kepada kereta api (saat itu PERUMKA, sekarang menjadi PT. KAI).
  • Beberapa tahun kemudian digunakan oleh Dinas Perhubungan.
  • Mulai tahun 2009, dipugar oleh PT.KAI (Persero).  

Paragraf yang sangat berfaedah bukan? 




Lukisan yang menggambarkan tentang stasiun-stasiun  kereta api di Indonesia


     Tidak mengherankan jika di dalam gedung Lawang Sewu banyak sekali dipamerkan segala hal yang berhubungan dengan kereta api. Tidak hanya koleksi foto dan lukisan, terdapat pula beberapa koleksi miniatur kereta api tua, loket, tiket kereta api, alat pencetak tiket jaman dulu, dan lain sebagainya. Jika kalian mencari koleksi Thomas and Friends, mohon maaf salah tempat. Replika lokomotif tua yang terbuat dari kayu juga turut dipajang dan bisa dipakai untuk background foto bagi panjenengan-panjenengan yang hobi berselfie. Oleh sebab itu, ruangan ini dinamakan Ruang Pamer. Sedikit terdengar riya' yha? Yha. 


Miniatur gerbong kereta api 

Miniatur lokomotif kereta api tua

Loket tiket (oke, harus hati-hati ngetiknya, rentan typo, saya takut)

Tiket kereta api jaman dulu

Alat pencetak tiket

Menggemaskan sekali telepon kayu ini. Bawa pulang boleh?
.
Bapakke

Mbokke
Anakke

      Ruang demi ruang saya jelajahi, hingga kemudian saya menghentikan langkah di bawah sebuah tangga besar dan terkagum-kagum dengan apa yang saya lihat. Dinding kaca patri yang menjulang dengan lukisan dan warna yang cantik terpampang di kedua mata saya. Lalu saya menaiki tangga agar bisa melihat lebih dekat. Ini kelewat keren, njir! Menurut saya, ini spot paling menarik di dalam Gedung A. Saya awam seni, jadi yang saya tahu hanya bagus atau tidak. Sudah. 

    Desain hasil tangan J.L. Schouten, seniman kaca asal Belanda ini, memuat makna tersendiri di tiap panelnya (browsing saja ya, terlalu panjang kalau saya tulis disini. Wk). Karena dinding kaca patri ini menghadap matahari, maka agak susah untuk mengambil foto dengan kamera ponsel. Iya, saya getun tidak berhasil mengambil foto dinding kaca patri tersebut karena backlight. Kamera ponsel saya tidak mampu menangkap detail kecantikan lukisan dan warnanya. Sempat mendengar dari seorang guide yang sedang mendampingi rombongan wisatawan yang berada di sebelah saya, bahwa dinding kaca patri ini hanya bisa dipotret dengan menggunakan kamera profesional. Mungkin kamera ponsel bisa, tapi kamera ponsel dua belas juta. Okeoce, tunggu saya masuk Alexis dulu. 

      Puas mengagumi ornamen cantik tersebut, saya pun menoleh ke belakang. Ternyata ada tangga untuk menuju lantai 2. Namun, akses tersebut ditutup. Ada papan larangan masuk yang terpasang di dua tangga yang berada di sisi kanan dan kiri tangga besar. Sayang sekali, padahal kan penasaran. Tidak ada penjelasan kenapa lantai 2 tidak dibuka untuk umum. Tapi tetap tidak boleh melanggar aturan karena saya sempat baca tata tertib pengunjung, salah satunya tidak boleh membuka ruangan yang tertutup. Tak kira yang tertutup hanya bengkel ketok mejik

     Sebelum beranjak dari Gedung A, jangan melewatkan untuk berfoto dengan latar deretan pintu bergaya lawas dan berwarna cokelat tua yang memanjang ke belakang. Spot ini menjadi salah satu spot ikonik di Lawang Sewu. Selain itu, berfoto dengan background miniatur Benteng Willem I juga sangat pas untuk menambah koleksi foto di galeri ponsel kalian. Benteng Willem I atau yang lebih dikenal dengan nama Benteng Pendhem Ambarawa, merupakan bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang terletak di Ambarawa. Dari dipamerkannya miniatur kereta api hingga benteng, kalau boleh saya bilang, wisata Lawang Sewu akan lebih cocok sepaket dengan Museum Kereta Api Ambarawa (lalu saya seperti ditampar sempak Hulk sebagai pengingat kalau belum rampung juga menulis soal Museum Kereta Api Ambarawa, padahal sudah dari jaman Andika Kangen Band masih perjaka). Jika di Lawang Sewu kita hanya bisa melihat miniaturnya saja, di Museum Kereta Api Ambarawa kita bisa melihat wujud asli si kereta tua. Benteng Willem I pun bisa juga disinggahi karena lokasinya tidak terlalu jauh dengan Museum Kereta Api Ambarawa. Tapi saya juga belum pernah ke bentengnya ding. Mbok aku dijak...





Hweee... Melu-melu

Hweee... Melu-melu



Next: Lawang Sewu, Sebuah Lorong Waktu (Part 2)


Thursday, August 31, 2017

YAKALIK GAK NYORE!

Kamis, 19 Januari 2017


Photo by: Sekar

“Ayo dolan!”
     Pagi ini, sebuah pesan chat BBM masuk begitu saya menghidupkan ponsel setelah dicharge selama 1000 tahun lamanya. Tertera nama Amrina Grande di layar ponsel. Tak lama kemudian disusul rentetan chat dari 2 makhluk astral lainnya, Sekar (bukan nama sebenarnya) dan Very (separuh jiwanya Amrina/Amer).

    Sementara itu, gadis bohai semampai ini masih nampak memprihatinkan dengan style “gembel bersahajanya”. Kira-kira kondisinya seperti ini:


  • Belum rampung beberes rumah,
  • Kaos oblong basah oleh peluh sampai nyeplak memperlihatkan lekukan beha dan lemak,
  • Ketek becek mengeluarkan aroma gas amonia dengan kadar tinggi yang bisa untuk membunuh populasi zombie se-Racoon City,
  • Rambut dikuncir keatas dalam kondisi lepek nan tengik, dan
  • Muka jauh dari kata “Galgadot abis”.
     
     Kondisi saya yang masih berantakan, membuat mereka beristighfar sedalam-dalamnya. Lha wong saya itu anaknya ndak bisa diajak dadakan. Kan ai bukan tahu bulat. Apalagi kalau sudah terlanjur mengerjakan gaweyan omah (baca: mbabu), ya harus dirampungkan terlebih dulu. Kali ini pun saya juga sudah menata mood untuk bersih-bersih muka, karena muka ini sudah mirip salak pondoh kalau dipegang. Jadi paling tidak tunggu 1-2 jam atau bahkan lebih, sampai saya benar-benar terlihat gorjes dan redi untuk diajak jalan sama Abang Hamish. Btw, paragraf ini sepertinya tidak penting ya?

     Kembali mereka beristighfar dari lubuk hati terdalam seraya berucap, “Ku ingin berkata kasar”.
KA-SAR.
1 jam…
2 jam…
3 abad 20 hari…

     Sekitar pukul 13.00, (akhirnya) kami pun berangkat santai. Gas tipis-tipis, kalau kata anak motor. Setipis Charm Body Fit. Gerimis sempat turun sebentar ketika kami masih di tengah perjalanan. Beruntung, tidak sampai hujan deras. Ya, cuaca belakangan ini sedang tidak bersahabat. Tidak seperti Alfamart dan Indomaret yang selalu bersahabat dalam suka maupun duka, forever and ever. Tapi mosok preman takut hujan. Mongomong, hendak kemana dikau?


***

     Gapura masuk Dusun Ngentak, Desa Candirejo, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul, sudah terlihat dari pinggir jalan raya Weru - Gunungkidul. Kami pun menyusuri jalan desa tersebut. Tidak sampai lima menit, sampailah kami di tempat tujuan. Ya...lokasinya memang hanya selemparan upil plankton dari jalan raya yang merupakan jalan alternatif menuju Kabupaten Gunungkidul, DIY. Kalau dari rumah saya (Jaten, Karanganyar), dibutuhkan waktu kurang lebih 1-1,5 jam untuk sampai di lokasi obyek wisata dadakan ini. Meski dadakan, tapi disini tidak ada kang tahu bulat.  


     Jadi, kami berempat menyempatkan untuk "menengok" salah satu tempat yang cukup hits di kalangan penganut hestek explore ini, explore inu, explore anu. Amer dan Very sebenarnya beberapa waktu yang lalu sudah pernah ke tempat ini. Mereka berdua suka gerak cepat kalau mencari tempat asyik untuk nyore (baca: yhang-yhangan). Di Instagram pun, saya kerap melihat postingan foto tempat ini. Karena dadakan dan berangkatnya juga sudah terlalu siang, maka kami mencari tempat dolan yang dekat-dekat saja. Sedekat aku dan suami...temanku. 



***

     Truk-truk pengangkut batu kapur berlalu-lalang di depan kami. Jangan kaget kalau sesekali hidup kalian akan terhempas manja oleh asap dan debu. Ah, wis biyasa jalan berkawan truk-truk, semacam di Ketep Pass. Telinga pun kian karib dengan suara pukulan batu yang saling bersahutan. Mata saya memperhatikan suasana sekeliling. Terlihat para penambang sedang beraktivitas, sambil sesekali bergurau dengan rekan-rekannya. Suasana desa pun sangat terasa dengan rindangnya pepohonan dan aroma pedesaan yang khas (baca: wangi sapi). Tak jauh dari kami, di depan sebuah rumah sederhana, terpasang sebuah papan bertuliskan "Lokasi dan Puncak Telaga" beserta gambar anak panah ke kiri. Pandangan saya mengikuti arah si anak panah dan terhenti ke sebuah tebing kapur yang menjulang. Oh...itu ta lokasi Telaga Biru?


Kalau Puncak Akademi Fantasi Indosiar dimana, Mz?

"Motornya diparkir disini saja ndak apa-apa, Mbak," kata seorang lelaki paruh baya yang sepertinya tengah ngaso di salah satu teras rumah warga. 

     Nampaknya si Bapak tahu kalau kami sedang celingukan mencari tempat parkir, karena tidak ada petunjuk dimana lokasi parkirnya. Kami pun memarkir motor sesuai arahan si Bapak baik hati. Dan ternyata lokasi dimana kami berada ini bukanlah jalan utama menuju ke lokasi Telaga Biru. Tapi ada akses lain dimana katanya jalan tersebut langsung mengarah ke atas tebing, jadi langsung bisa menikmati view dibawah. Begitu kata Very. Itu artinya, kita harus sedikit "mendaki". Okeoce! Jalan-jalan yang sedikit menantang begini memang favorit ai! Asal jalan kaki, bukan naik motor. Setelah memarkir motor, lalu kami berjalan kaki mengikuti arah yang tertera di papan petunjuk. 


     Kondisi selepas hujan membuat jalanan yang berupa tanah dan bebatuan menjadi becek dan licin. Padahal dari rumah sudah niat mau memakai sandal jepit saja. Untung saya urungkan niat "njepit", karena belum tahu medannya bagaimana. Kalau jadi, sudah mbrodhol kemana-mana Swallow ungu kesayangan saya. Tapi, saya jadinya pakai sepatu Crocs. YA PADHA BAE! LICIN-LICIN JUGA, BAHLUL!


     Langkah kaki kami makin mendekat ke tebing kapur yang mmm...sangat masa kini. Ya, tebing yang "dipercaya" mampu mempercantik feed Instagram people-people jaman now. Tapi kalau ingin mempercantik aura diri untuk menarik perhatian duda kampung sebelah, bukan disini tempatnya. Tebing kapur ini menjulang gagah, seolah membingkai area di sekitarnya. Tempat ini cukup tandus, bertolak belakang dengan suasana desa sekitar yang asri. So, siang hari sepertinya bukanlah waktu yang tepat kalau kalian ingin mengunjungi lokasi ini. Meski panas dan banyak debu, tidak dipungkiri area tebing ini menjadi salah satu spot foto menarik. Hmm...bagaimana untuk foto prewedding saja? Kan murah.






Photo by: Very

Photo by: Very

Photo by: Sekar

     Tapi ini belum seberapa. Untuk mendapatkan view ciamik yang menjadi daya tarik lokasi ini, kami masih harus "mendaki" ke atas tebing. Hanya sekitar 15-20 menit, tergantung seberapa kuat boyok kalian bisa bertahan. Sekali lagi, harus ekstra hati-hati. Keblowok sedikit, die


***

     Saya pun mengayunkan langkah menapaki jalanan berbatu. Harus ekstra hati-hati, karena saya memakai alas kaki yang seharusnya tidak dipakai di kondisi seperti ini. Rentan keblowok. Tanah basah dan bongkahan-bongkahan batu kapur harus kami lewati. Dari atas, saya juga bisa melihat para penambang sedang beraktivitas. Truk-truk pengangkat batu kapur terlihat mini dan lucu dari atas sini. Semacam mainan truk-trukan yang dijual di pasar malam dan ditarik dengan seutas tali. Tapi sayangnya tali ini tidak bisa dimanfaatkan untuk menarik leher pacarmu kalau dia mulai membeli action figure mahal dengan dalih hobi.











     Pandangan mata saya menyapu view sekitar. Semilir angin jelang sore hari sungguh syahdu. Apalagi suasana juga sedikit mendung. Nggelar tikar, makan pisang goreng, ngupi, ena nih! Tapi, "pendakian" kami belum selesai. Kami belum sampai ke spot yang menjadi daya tarik lokasi ini. Oks! Kembali saya membawa Crocs coklat yang sudah mblawus ini menapaki tanah basah dan bongkahan bebatuan kapur yang ukurannya cukup untuk bikin mantanmu sakaratul maut. 







     Sesampainya diatas, rasa mager dan ingin leyeh-leyeh manja langsung muncul. Deretan hijau pepohonan dan gundukan bukit di kejauhan sangat memanjakan mata. Semilir angin sore pun menambah ke-ciamik-an suasana. Kami tiba disini sudah menjelang sore, dimana sudah memasuki jam-jam "kemagisan". Bukan horor, maksudnya memasuki jam-jam enak untuk jalan-jalan. View asyik, suasana asyik, teman asyik, yakalik nggak nyore

     Suara teriakan kegirangan samar-samar terdengar. Oh, ternyata dibawah banyak bocah cilik yang sedang asyik bermain air. Ya, ini dia yang menjadi magnet tempat wisata yang berlokasi di perbatasan Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah dan Kabupaten Gunungkidul, DIY ini. Kubangan-kubangan air berwarna toska yang jika dilihat dari atas menyerupai telaga, menjadi hiburan tersendiri bagi akamsi (anak kampung sini). Maka dari itu lokasi ini dinamakan Telaga Biru, meskipun airnya cenderung berwarna toska. Kalau boleh saya bilang, semacam Telaga Warna di Dataran Tinggi Dieng. Maksa. Bodo. 

"Kayak di Raja Ampat ya?" celetuk Sekar dengan penuh halu.  





   Telaga Biru sebenarnya bukanlah obyek wisata. Tempat ini merupakan lokasi penambangan batu kapur. Bekas galian tambang tersebut membentuk beberapa cekungan. Ketika musim hujan, cekungan tersebut terisi penuh oleh air sehingga mirip telaga. Yang menarik adalah airnya tidak berwarna cokelat, sebagaimana air-air di kubangan, tapi berwarna toska. Itulah yang menambah kecantikan Telaga Biru jika dilihat dari atas, meskipun volume airnya sudah tidak sebanyak dulu waktu awal-awal lokasi ini mulai dikenal. 






***


     Saya merogoh ponsel di tas coklat kesayangan saya. Masuk ke menu kamera, lalu saya mengarahkan lensa ke obyek yang akan ditangkap ponsel Lenovo berkamera seadanya ini. 
Sekali jepret. 
Dua kali jepret.
Limapuluh kali jepret.
Seribu kali jepret.
Sejuta jepret.
Oks. Fail. Hampir semua. Dem
Saya pun menyerah dan memutuskan untuk nunut di kamera ponsel Sekar dan Very saja. Percayalah, ini bukan semacam kode. Tapi jika ada yang mau menghibahkan kamera bagus ke saya, akan saya terima dengan dada...eh, hati yang terbuka. 



Photo by: Sekar

Photo by: Very

     Kami sempat iseng membuka Instagram untuk mencari referensi foto yahud di tempat ini. Mereka kebanyakan berfoto dengan pose duduk anggun di pinggir tebing dengan kaki menjulur ke bawah. Sepertinya foto semacam itu tidak akan kami ikuti. Sebenernya biasa saja dan tidak ada yang perlu ditakutkan, tapi...

  • Kami sadar, keselamatan dunia akherat adalah segalanya.
  • Kami sadar, pinggiran tebing yang rawan rapuh ini tidak akan mampu menampung berat badan dan dosa kami.
  • Kami sadar, kami masih ingin menikah.
  • Kami sadar, pinggiran tebing bukan tempat berfoto aneh-aneh bagi tua bangka macam kami.
  • Kami sadar, hanya badan setipis Victoria Beckham yang berani salto di pinggiran tebing.

Pose yang normal-normal saja lah, macam dua sejoli ini.

***

     Setelah puas berfoto-foto ganjen, kami pun turun karena hari makin beranjak senja. Sebenarnya sunset-an disini sepertinya mengasyikkan. Tapi sayangnya cuaca agak mendung, jadi mungkin next time bisa dicoba. Telaga Biru ini bisa dijadikan alternatif wisata murah meriah bagi yang ingin santai-santai menikmati pemandangan dari ketinggian. Meskipun lokasi ini termasuk obyek wisata dadakan dan musiman (karena air telaga melimpah hanya saat musim hujan), tapi tetap harus menjaga kebersihan jika kalian berkunjung kesini. 






Thank you, guys!
Ketjoep!